Rabu, 17 Oktober 2012

PNPM Bergulir, Masyarakat Produktif


Saat gempa bumi mengguncang Yogyakarta, 26 Mei 2006 lalu, Kecamatan Berbah termasuk salah satu wilayah di Kabupaten Sleman yang mengalami
kerusakan terparah. Tapi kini Berbah kembali menggeliat. Seiring bergulirnya PNPM, produktivitas masyarakat terus meningkat.
“Kita mencoba memahami UPK ini sebagai wujud lembaga
Pemberdayaan masyarakat dan juga sekaligus lembaga keuangan
mikro,” ungkap Bayu.


“Tahun 2006 adalah tahun kehancuran sekaligus tahun kebangkitan  
kecamatan kami, terutama UPK (Unit Pengelola Kegiatan) Berbah,”  ungkap Bayu Nurwijaya, ketua UPK Berbah. Bayu benar. Setelah bencana
gempa besar 2006, sebagian besar kecamatan di Sleman Selatan mendapatkan prioritas dana PNPM Perdesaan Rehabilitasi Pasca Bencana,
termasuk Kecamatan Berbah. Namun hanya segelintir yang mampu bertahan dan tetap bergulir hingga saat ini, salah satunya adalah UPK Kec Berbah. Hal itu tak lepas dari kiprah empat pemuda Berbah yakni Bayu, Aris, Esti, dan Adi, yang secara telaten mengurusi UPK tersebut sepenuh hati. Hasilnya, UPK yang sempat kembang-kempis terdampak
gempa, bisa kembali bangkit. Mereka tahu, butuh konsentrasi penuh untuk mengurus UPK, artinya tidak bias dijadikan kegiatan sampingan.
“Penyebabnya, pemberdayaan masyarakat tidak hanya butuh dana bergulir, tapi mereka lebih membutuhkan pendampingan baik teknis, manajemen, maupun motivasi untuk bisa terus berkembang,” urai Bayu


Berawal dari BLM
UPK Kec Berbah dibentuk 9 September 2006 sebagai syarat untuk  menerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). UPK inilah yang mengoperasionalkan BLM untuk diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang dibutuhkan masyarakat Berbah. “Tahun itu kami menerima sekitar Rp
2,25 miliar, yang kami gunakan untuk tiga kegiatan yaitu sarana dan prasarana fisik, peningkatan kualitas hidup, dan kegiatan ekonomi produktif,” jelas Bayu.
Meskipun alokasi untuk kegiatan ekonomi produktif hanya 25% dari BLM, namun kegiatan ini dinilai paling sukses dan masih tetap berjalan hingga sekarang. Tak heran Berbah banyak menerima penghargaan atas prestasi
monumental tersebut. Terakhir mendapatkan Anugerah Pemberdayaan
Tingkat Nasional tahun 2012, kategori Unit Pengelola Kegiatan, Aspek
Kelembagaan PNPM Mandiri Perdesaan. Fakta prestasi UPK Berbah
diperkuat pernyataan Sidik selaku Financial Management Support PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi DIY. “UPK Berbah ini sangat berhasil dalam
mengelola dana PNPM. Mereka bahkan tetap bisa berjalan saat kucuran dana PNPM dihentikan pada akhir 2007. Ini luar biasa,” ujar Sidik.

Agar Tepat Sasaran
Sejak awal program tahun 2006 sampai fase out atau lepasnya BLM  tahun 2008 UPK Kec Berbah mampu mempertahankan kelancaran angsuran hingga 100%. Bahkan pada saat lepasnya BLM tahun 2008 hingga sekarang, lembaga ini mampu membiayai operasionalnya sendiri
dengan kondisi keuangan yang sangat sehat. Bagaimana caranya? Strategi mereka tidak tanggung-tanggung, semua agenda kegiatan
tahunan dimunculkan tim UPK melalui dusun-dusun. Bagi tim UPK, masyarakatlah yang tahu kebutuhan mereka sendiri, oleh karena itu mereka rela blusukan mendata sampai ke pelosok dusun untuk mencari gagasan kegiatan dan menyusunnya menjadi program kegiatan dari dana
bergulir. Tujuannya satu, agar program benar-benar tepat sasaran.
Kegiatan masyarakatnya pun akhirnya sangat beragam, mulai dari produksi bahan makanan hingga kerajinan kelompok. Mereka juga menyelenggarakan kegiatan pelatihan manajerial. “Mereka menjadikan diri sendiri sebagai produsen sekaligus distributor bagi kelompok mereka
sendiri,” kata Bayu, seraya menambahkan hingga saat ini jumlah kelompok aktif mencapai 108 kelompok dengan jumlah anggota aktif 998 orang.

Berbuah Manis
Untuk menghidupkan dana bergulir tersebut, tim UPK mendorong adanya pengumpulan modal di kelompok masing-masing baik dari iuran  kelompok juga dari pengembalian ansuran dari Insentif Pengembalian Tepat Waktu (IPTW). IPTW tidak bisa di bagikan perindividu kelompok tapi harus masuk ke kas kelompok untuk penambahan modal mereka.
“Kita mencoba memahami UPK ini sebagai wujud lembaga pemberdayaan masyarakat dan juga sekaligus lembaga keuangan mikro,” jelas Bayu.
Strategi dan konsep yang diterapkan Bayu dan kawan-kawan ternyata manjur. Buktinya asset produktif mereka kini telah mencapai Rp 1,5 miliar lebih. Padahal modal awal dari PNPM tahun 2006 dan 2007 hanya sekitar Rp 714 juta. Ketekunan tersebut kini berbuah manis. Mulai akhir 2012 ini, UPK Kec Berbah kembali menerima PNPM Integrasi untuk
pengembangan lebih jauh. Namun Bayu dan kawan-kawan belum akan berhenti. “Kami akan tetap berjuang untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

sumber : rubrik TOTEM (Tabloid Tempel edisi 14 tahun VIII Juli 2012) Tabloid KOMUNIKA edisi 12  (yang diterbitkan oleh DITJEN INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar