Saat gempa bumi mengguncang Yogyakarta, 26
Mei 2006 lalu, Kecamatan Berbah termasuk salah satu wilayah di Kabupaten Sleman
yang mengalami
kerusakan terparah. Tapi kini Berbah
kembali menggeliat. Seiring bergulirnya PNPM, produktivitas masyarakat terus
meningkat.
“Kita mencoba memahami UPK ini sebagai wujud lembaga
Pemberdayaan masyarakat dan juga sekaligus lembaga
keuangan
mikro,” ungkap Bayu.
“Tahun
2006 adalah tahun kehancuran sekaligus tahun kebangkitan
kecamatan
kami, terutama UPK (Unit Pengelola Kegiatan) Berbah,” ungkap Bayu Nurwijaya, ketua UPK Berbah. Bayu
benar. Setelah bencana
gempa
besar 2006, sebagian besar kecamatan di Sleman Selatan mendapatkan prioritas
dana PNPM Perdesaan Rehabilitasi Pasca Bencana,
termasuk
Kecamatan Berbah. Namun hanya segelintir yang mampu bertahan dan tetap bergulir
hingga saat ini, salah satunya adalah UPK Kec Berbah. Hal itu tak lepas dari
kiprah empat pemuda Berbah yakni Bayu, Aris, Esti, dan Adi, yang secara telaten
mengurusi UPK tersebut sepenuh hati. Hasilnya, UPK yang sempat kembang-kempis
terdampak
gempa,
bisa kembali bangkit. Mereka tahu, butuh konsentrasi penuh untuk mengurus UPK,
artinya tidak bias dijadikan kegiatan sampingan.
“Penyebabnya,
pemberdayaan masyarakat tidak hanya butuh dana bergulir, tapi mereka lebih
membutuhkan pendampingan baik teknis, manajemen, maupun motivasi untuk bisa
terus berkembang,” urai Bayu
Berawal dari BLM
UPK Kec
Berbah dibentuk 9 September 2006 sebagai syarat untuk menerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM).
UPK inilah yang mengoperasionalkan BLM untuk diwujudkan dalam bentuk kegiatan
yang dibutuhkan masyarakat Berbah. “Tahun itu kami menerima sekitar Rp
2,25
miliar, yang kami gunakan untuk tiga kegiatan yaitu sarana dan prasarana fisik,
peningkatan kualitas hidup, dan kegiatan ekonomi produktif,” jelas Bayu.
Meskipun
alokasi untuk kegiatan ekonomi produktif hanya 25% dari BLM, namun kegiatan ini
dinilai paling sukses dan masih tetap berjalan hingga sekarang. Tak heran
Berbah banyak menerima penghargaan atas prestasi
monumental
tersebut. Terakhir mendapatkan Anugerah Pemberdayaan
Tingkat
Nasional tahun 2012, kategori Unit Pengelola Kegiatan, Aspek
Kelembagaan
PNPM Mandiri Perdesaan. Fakta prestasi UPK Berbah
diperkuat
pernyataan Sidik selaku Financial Management Support PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi
DIY. “UPK Berbah ini sangat berhasil dalam
mengelola
dana PNPM. Mereka bahkan tetap bisa berjalan saat kucuran dana PNPM dihentikan pada
akhir 2007. Ini luar biasa,” ujar Sidik.
Agar Tepat Sasaran
Sejak
awal program tahun 2006 sampai fase out atau lepasnya BLM tahun 2008 UPK Kec Berbah mampu mempertahankan
kelancaran angsuran hingga 100%. Bahkan pada saat lepasnya BLM tahun 2008
hingga sekarang, lembaga ini mampu membiayai operasionalnya sendiri
dengan
kondisi keuangan yang sangat sehat. Bagaimana caranya? Strategi mereka tidak
tanggung-tanggung, semua agenda kegiatan
tahunan
dimunculkan tim UPK melalui dusun-dusun. Bagi tim UPK, masyarakatlah yang tahu kebutuhan
mereka sendiri, oleh karena itu mereka rela blusukan
mendata sampai ke pelosok dusun untuk mencari
gagasan kegiatan dan menyusunnya menjadi program kegiatan dari dana
bergulir.
Tujuannya satu, agar program benar-benar tepat sasaran.
Kegiatan
masyarakatnya pun akhirnya sangat beragam, mulai dari produksi bahan makanan hingga
kerajinan kelompok. Mereka juga menyelenggarakan kegiatan pelatihan manajerial.
“Mereka menjadikan diri sendiri sebagai produsen sekaligus distributor bagi
kelompok mereka
sendiri,”
kata Bayu, seraya menambahkan hingga saat ini jumlah kelompok aktif mencapai
108 kelompok dengan jumlah anggota aktif 998 orang.
Berbuah Manis
Untuk
menghidupkan dana bergulir tersebut, tim UPK mendorong adanya pengumpulan modal
di kelompok masing-masing baik dari iuran kelompok juga dari pengembalian ansuran dari
Insentif Pengembalian Tepat Waktu (IPTW). IPTW tidak bisa di bagikan perindividu
kelompok tapi harus masuk ke kas kelompok untuk penambahan modal mereka.
“Kita
mencoba memahami UPK ini sebagai wujud lembaga pemberdayaan masyarakat dan juga
sekaligus lembaga keuangan mikro,” jelas Bayu.
Strategi
dan konsep yang diterapkan Bayu dan kawan-kawan ternyata manjur. Buktinya asset
produktif mereka kini telah mencapai Rp 1,5 miliar lebih. Padahal modal awal
dari PNPM tahun 2006 dan 2007 hanya sekitar Rp 714 juta. Ketekunan tersebut
kini berbuah manis. Mulai akhir 2012 ini, UPK Kec Berbah kembali menerima PNPM Integrasi
untuk
pengembangan
lebih jauh. Namun Bayu dan kawan-kawan belum akan berhenti. “Kami akan tetap
berjuang untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
sumber : rubrik TOTEM (Tabloid Tempel edisi 14 tahun VIII Juli
2012) Tabloid KOMUNIKA edisi 12 (yang
diterbitkan oleh DITJEN INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI
DAN INFORMATIKA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar